Spanduk Larangan Tak Digubris, Suara Mesin Tambang Ilegal Marbuk Pungguk Kenari Tetap Bergemuruh

FIF Group Gelar Diskusi Virtual Perkembangan Media Siber
April 24, 2021
Jembatan KTM Rambutan Ambruk Akibat Dilalui Alat Berat
April 24, 2021
BABEL, RADARBAHTERA.COM – Suara bergemuruh yang berasal dari mesin tambang timah ilegal dari seputaran kolong Marbuk, Kenari, Pungguk di belakang pasar Modern Koba, sempat terdengar oleh warga Sabtu pagi (24/04/2021). Padahal di lokasi yang berada di pusat Kota Koba tersebut, sejak sepekan lalu sudah terpampang spanduk larangan menambang berikut konsekwensi hukum bagi pelanggarnya. Bahkan sebelumnya, pihak Kecamatan Koba dan hingga aparat penegak hukum sudah sering kali bersosialisasi dan memperingatkan para penambang.
 
Pantauan media, sejak beberapa hari lalu, para penambang kembali merakit ponton-ponton tambang di lapangan dengan santainya.
 
“Kami sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya, dengan sosialisasi dan memperingatkan para penambang jika aktivitas mereka dapat berdampak rusaknya lingkungan,” kata Kasi Trantib Kecamatan Koba Primadoni kepada awak media, Jumat (23/04/2021).
 
Sedangkan Kapolsek Koba Iptu Martuani Manik mengungkapkan, pihaknya sudah seringkali melakukan razia penertiban bahkan spanduk peringatan sudah dipasang di lokasi tersebut.
 
“Sosialisasi sudah kami lakukan, peringatan jika aktivitas tambang timah di kawasan Marbuk, Pungguk dan Kenari dan sekitarnya adalah ilegal, penertiban sebelumnya, hingga memasang spanduk larangan menambang juga sudah dilakukan,” ungkapnya.
 
 
Sementara itu, hingga Sabtu pagi (24/04/2021), suara gemuruh berasal dari mesin tambang ilegal dari seputaran kolong Marbuk, Kenari, Pungguk terdengar hingga ke Kelurahan Berok. 
 
“Pagi tadi mulai dari sekira pukul 06.00 WIB, ada suara gemuruh, kami kira ada pesawat jatuh atau gempa bumi. Eh ternyata suara itu berasal dari suara mesin tambang di kolong Marbuk Kenari Pungguk,” ujar Sin kepada awak media.
 
Ia menegaskan, jika hal ini sudah meresahkan warga masyarakat. Ia pun berharap ada langkah tegas agar para penambang timah ilegal itu jera sejera-jeranya tidak hanya sebatas imbauan dan sosialisasi saja. “Beberapa tahun lalu, pernah terjadi banjir besar akibat jebolnya kolong dan meluapnya sungai Berok yang semakin hari semakin mendangkal ini. Akankah harus menunggu tanggul kolong jebol dan banjir, akses transportasi lumpuh, baru akan ada tindakan. Sementara para penambang hingga para pengkoordinir aktivitas disana, santai-santai saja diatas penderitaan orang lain,” tegasnya. 
 
Sedangkan Jon, warga Simpangperlang merasa jengah dan janggal, karena para penambang di seputaran kolong Marbuk Kenari Pungguk itu terkesan tak takut hukum, kondisi ini jadi dinamika tersendiri antara yang mengatasnamakan kepentingan perut, atas nama masyarakat hingga dugaan para mengkoordinir untuk meraup untung pribadi.
 
“Jangan mengatasnamakan masyarakat demi keuntungan pribadi, penambang di seputaran kolong Marbuk Kenari Pungguk itu, bukan mau cari makan, tapi cari kaya, dengan cara ilegal. Negara dirugikan akibat tak adanya pajak, masyarakat luas pun terdampak akibat suara bising hingga bencana banjir. Sementara para penambang, hingga para pengkoordinirnya berleha-leha diatas penderitaan orang banyak,” pungkas Jon. (Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *